Friday, July 20, 2012

Kuliah Atau Kerja ya??


Foto dari sini

            Rahasia kesuksesan bagi setiap orang dalam hidup adalah menempati posisi siap ketika sebuah peluang datang, begitulah kata Benyamin Desraili seorang sastrawan asal Inggris. Alasannya jelas, karena peluang emas jarang bahkan tak akan terulang untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, setiap waktu dan kesempatan yang datang adalah suatu hal yang tak ternilai harganya. Yang sudah semestinya digunakan semaksimal mungkin guna meraih sukses kehidupan.
Hal itulah yang mungkin sedang diterapkan oleh para mahasiswa dewasa ini. Para mahasiswa yang marak menggeluti profesi sampingan selain status sosial sebagai pelajar yang disandangnya. Ada yang menjadi wiraswasta, seperti berjualan pulsa, baju, makanan, dan sebagainya. Ada pula yang menggeluti pekerjaan semisal jadi guru ngaji, guru les private, pembicara, penulis lepas sampai bisnis multi level marketing pun masih banyak yang menekuni.
            Mengingat, memang masa-masa seperti ini harus dioptimalkan sebaik mungkin sebelum nantinya lulus meninggalkan kampus tercinta. Karena pada masa-masa inilah jati diri dan semangat juang yang membara sedang berkobar-kobarnya. Pada waktu ini pula, masa depan seorang mahasiswa mulai menemukan arahnya. Jargon “selagi muda, apa salahnya mencoba-coba!” itupun seakan selalu ingin dipraktikan oleh generasi penerus bangsa ini.
Melalui kampus yang notabene adalah kawah candradimuka bagi setiap individu, baik untuk mengasah potensi diri maupun intelektualisasi pemikiran. Ternyata selain itu kampus juga memiliki potensi lain yang sebetulnya sangat menguntungkan mahasiswa, yaitu dengan berbagai fasilitas pengembangan softskill dan jaringan yang tersedia. 
Lewat hal inilah aneka pikiran kreatif dan bakat mahasiswa dapat terasah dan tersalurkan. Baik untuk pengasah skill sesuai bakat minatnya maupun akses atau jaringan dalam pengembangan bakat tersebut. Contohnya saja sebagai mahasiswa kita dipermudah dalam menjalankan praktik mengajar lewat les private. Dipermudah untuk mengeksplorasikan ide-ide kita ke dalam tulisan yang nantinya dapat disalurkan ke berbagai surat kabar, karena tak dapat dipungkiri banyak media cetak yang memberikan rubrik khusus untuk para mahasiswa. Berjualan seperti pulsa, baju dan lainnya pun serasa dipermudah dengan banyaknya teman maupun kenalan di dalam ataupun di luar kampus.  
Creativepreneur
Suatu keniscayaan pula, dalam menjalankan kerjaan tersebut pasti akan berhadapan dengan banyak tantangan maupun saingan. Maka dari itu, kreatifitas dan inovasi dalam menjalankan bisnis itu pun sangat diperlukan. Kalau dalam tulisannya Rahardi Ramelan (Republika, 12 Maret 2012) dikatakan, jika kelompok atau seseorang yang mengembangkan usaha pribadinya sesuai dengan skill atau kemampuan yang mereka miliki itu ia sebut sebagai skillpreneur.
Lain lagi bagi saya yang berpendapat kalau orang yang berwiraswasta dengan daya kreatifnya itu dapat dinamakan creativepreneur. Orang kreatif yang dapat mengubah sesuatu tak bernilai menjadi suatu hal yang ‘sesuatu’ banget. Orang kreatif yang kata Ippho Santosa dalam bukunya Marketing is Bullshit itu adalah orang tanpa batas (The Infinitive). Mereka menentang gagasan ‘segala sesuatu serba terbatas’. Sebab lewat beragam pendekatan, mereka bukan saja berhasil mengatasi keterbatasan, tapi mereka juga berhasil mengelola intuitif jadi infinitif, thoughts jadi things, sakit menjadi duit, konvensional jadi kontroversial, dan sosial jadi komersial.
Itulah salah satu sifat entrepreneur yang harus dijaga kelestariannya. Apalagi menghadapi dunia yang penuh dengan persaingan. Dibutuhkan suatu gebrakan yang kreatif dan “Wah” jika tak mau terlindas oleh pergerakan zaman. Oleh karena itu, sudah sepatutnya lah sifat tersebut di tempa sedini mungkin, khususnya bagi para pelajar yang sedang coba-coba menggeluti dunia ini.
Prioritas Utama
Memang uang bukanlah segalanya di dunia ini. Namun tetap saja, orang hidup pasti membutuhkan uang. Bahkan dari permasalahan inilah, orang dapat berbuat kejahatan yang seakan menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Uang seakan menjadi ukuran kebahagiaan materi di dunia ini. Sehingga banyak orang mencarinya, entah itu dengan cara yang halal atau haram.
Para mahasiswa pun juga tak dipungkiri membutuhkan uang. Maka dari itu, banyak diantara mereka yang bekerja sambilan. Alasannya pun beragam, ada yang murni untuk mendapatkan uang demi membantu orang tua membayar biaya perkuliahan. Ada yang ingin berlatih hidup mandiri, sehingga tidak selalu bergantung pada orang tua. Namun, ada juga yang beralasan untuk mendapatkan pengalaman.   
Hal itu tentu saja bersifat positif, selagi tidak mengganggu perkuliahan. Sebab, bagaimanapun juga seorang mahasiswa diamanati kuliah kan untuk mencari ilmu bukan mencari uang. Meskipun hal tersebut mengalami pengecualian dalam prioritas latar belakang alasan kerjanya. Melihat, tak sedikit juga orang yang kerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil kerja.      
Lebih lanjut, selain seorang mahasiswa dapat belajar menghadapi kehidupan bermasyarakat nantinya. Para mahasiswa juga mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya. Namun perlu diperhatikan juga, manajemen waktu dalam memprioritaskan kuliah atau kerja yang diutamakan. Karena orang yang sukses adalah orang yang dapat mengatur waktunya, bukan waktu yang mengaturnya.  

4 comments:

Fendy Ahmad Thahir said...

wow.. jadi yang enak mana nih.? kerja? kuliah? kerja sambil kuliah? atau kuliah sambil kerja?

Hendra Saputra said...

hayo enak yg mana???
hehe

subjektif mas sifatnya.... itu smw trgantung sikon individunya sperti apa jg.... :)
salam kenal...

Fendy Ahmad Thahir said...

Iya sih.. tapi aku jadi bingung deh. soalnya walopun udah telat banget, diriku baru mau kuliah nih.

Hendra Saputra said...

telat banget??
emang mas Fen lulusan tahn brapa??