Wednesday, September 12, 2012

Ada Malaikat di Matamu

Gambar dari sini

Oleh: Hendra Saputra

            Kupandangi cermin rias yang ada dihadapanku. Terpajang dimeja riasnya fotomu yang sedang bersama denganku. Foto yang membuatku masih saja tak menyangka, bahwa hari ini kau akan datang tuk melamarku. Memberikanku kesempatan untuk membuka halaman baru dalam kehidupan yang sudah kuyu. Kau adalah malaikat bagiku yang seorang janda beranak dua ini. Ya. Karena kau bersedia menjadi orang yang akan melepas status jandaku.
            Dimana orang-orang lainnya menggunjingku dengan berbagai alasan dan prasangka yang menyesakkan kalbu. Namun, kau malah hadir dengan membawa oase biru yang menyejukkan kegersangan jiwaku. Akupun masih ingat ketika dulu pertama kali kita bertemu.
            Kaulah yang dulu menolong anakku saat terjatuh dari sepedanya. Kau dengan baiknya mengobati luka anak pertamaku yang baru berumur tujuh tahun pada waktu itu. Tak cukup sampai disitu, kaupun mengantar anakku pulang. Hingga akhirnya kita bertemu. Berkenalan. Bercakap-cakap. Akrab sampai melupakan waktu. Entahlah. Aku juga kurang tahu kapan rasa itu mulai bersemi dikalbu.
            Yang jelas rasa itu halus menilisik ke dalam hati. Tanpa aku ketahui bagaimana ia bisa datang dan tak mau pergi. Tak disangka-sangka, kau pun juga memiliki rasa yang sama denganku. Sebuah rasa yang sudah lama terhanyut oleh kenangan masa lalu. Saat aku masih mendayung kehidupan bersama mendiang suamiku. Ya. Sekarang rasa itu kembali ku rasakan lewat tatapan matamu yang mendebarkan jantungku. Pun ku rasakan juga, dimatamu ada malaikat yang siap melindungiku. Menjaga dan menyayangi anak-anakku layaknya anak kandungmu sendiri.
            Meski pada kenyataannya, kisah itu tak semudah dalam angan untuk dinarasikan ke dalam balut suka. Butuh pengorbanan, air mata, duka, luka dan samsara yang menerpa disetiap kalimatnya. Apalagi saat cobaan itu tidak hanya datang dari masyarakat pada umumnya. Melainkan datang dari keluargamu sendiri, yang seharusnya menjadi orang pertama yang akan mendukung setiap tindakanmu. Namun, malah justru keluargamu lah yang paling getol untuk memisahkan tali yang sedang kita rajut bersama.
            Aku pun masih ingat ketika kau memperkenalkanku kepada keluargamu. Mereka dengan sebelah mata memandangku, sinis. Memperlakukanku seakan aku ini najis yang perlu dijauhi. Sakit sebenarnya diri ini. Tapi apa mau dikata, rasa sayangku padamu melebihi segalanya. Apalagi mata malaikatmu selalu saja menguatkanku, agar aku percaya bahwa kita pasti bisa melewati semua aral yang menghadang.
            “Yani, percaya sama aku. Insya Allah hubungan kita ini pasti akan menemukan jalannya. Meskipun harus berderai air mata dan berdarah dahulu dalam meraihnya.” Tuturmu waktu itu menguatkanku.
            Akupun hanya bisa menangis kala itu didekapanmu.
            Tak dapat berkata apa-apa.
***
            Hampir dua tahun hubungan kita berjalan. Masih saja tak ada kata restu bagi jalinan yang kita rajut ini. Hingga akhirnya, disuatu sore kau mengabarkanku bahwa kau dan keluargamu akan datang untuk melamarku. Kau pun bercerita, bahwa keluargamu sudah luluh dan mau merestui hubungan kita.
            “Beneran Mas Heri?” Tanyaku dengan girang tak percaya semua hal ini terjadi.
            “Iya beneran.” Balasmu dengan nada kegembiraan diujung telepon.
Karena bagaimanapun juga, memang cinta itu tak bisa dipaksakan. Cinta itupun datang bukan dari kehendak kita. Ia datang entah dengan bahasa apa. Yang jelas ia tak terbahasakan. Makanya, meskipun keluargamu sudah berulang kali ingin menjodohkanmu dengan wanita lainnya. Tetap saja kau tak mau. Karena cintamu memang sudah melekat pada seorang wanita berstatus janda, punya anak dua, aku.
 Dan kini, aku bersiap menunggu kedatanganmu dengan rombongan keluargamu. Deg-degan rasanya, ada rasa senang, tak menyangka, dan kesumringahan yang bercampur aduk dalam diriku. Sebab sebentar lagi aku akan menanggalkan status jandaku. Setelah kau melamarku, kemudian tak seberapa lama kau pun akan menyuntingku. Sungguh bahagianya diri ini.

Bukit Walisongo Permai, 2:55 AM, 30 Agustus 2012



No comments: